Kisah 2 Karyawan Apotek Diseret ke Meja Hijau, Berawal dari Tulisan Dokter yang Tak Jelas di Resep

Dua wanita muda yang merupakan mantan petugas apotek hanya bisa tertunduk di kursi terdakwa ruang Cakra 2, Pengadilan Negeri (PN) Medan.

Matanya menatap lantai sambil menunggu Ketua Majelis Hakim Sri Wahyuni menjatuhkan vonis yang akan menentukan nasibnya.

Mereka adalah Okta Rina Sari (21), warga Lingkungan 1, Kelurahan Namogajah, Kecamatan Medantuntungan dan Sukma Rizkiyanti Hasibuan (23) warga Jalan Pematangpasir Gang Tapsel, Lingkungan 14, Kelurahan Tanjungmulia, Kecamatan Medandeli, Kota Medan.

Keduanya diketahui diseret ke meja hijau sejak tahun lalu lantaran dianggap bertanggung jawab karena telah salah memberikan obat kepada pasien.

Baca Juga  Anjing Ini Mati Lindungi Keluarga Majikannya dari Ular Kobra

Namun, setelah sempat ditahan beberapa bulan, mereka akhirnya divonis tidak bersalah alias bebas oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Medan.

“Memutuskan menjatuhkan vonis bebas atau Vrijspraak kepada terdakwa Okta Rina Sari dan Sukma Rizkiyanti Hasibuan karena berdasarkan fakta-fakta di persidangan tidak terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan melanggar pasal yang didakwakan penuntut umum,” kata hakimSri Wahyuni dikutip dari Kompas.com pada Rabu (27/1/2021).

Baca Juga  MUI Sudah Tetapkan Perkawinan Beda Agama Haram dan Tidak Sah

“Memulihkan hak-hak terdakwa dalam kemampuan, kedudukan, harkat serta martabatnya.”

Penasihat hukum kedua terdakwa, Maswan Tambak, mengaku lega dan mengapresiasi atas vonis yang dijatuhkan hakim kepada okta Rina Sari dan Sukma Rizkiyanti Hasibuan.

“Kita apresiasi vonis hakim, majelis telah objektif melihat fakta persidangan sehingga tepat dalam mempertimbangkan dan mengambil putusan,” kata Maswan.

Maswan menjelaskan, majelis hakim telah membuat pertimbangan berdasarkan fakta-fakta persidangan yang menyatakan bahwa kedua terdakwa bukan yang memberikan obat kepada Yusmaniar, melainkan karyawan lain yaitu Endang Batubara.

Baca Juga  Petugas Kebun Binatang San Diego Digigit Ular Beludak Afrika yang Tidak Ada Antivenom

Saat korban membeli obat pada 6 November 2018, kedua terdakwa ternyata belum bekerja di Apotek Istana 1.

Lalu, dilakukan kembali pembelian obat pada 13 Desember 2018, saat itu baru terdakwa Sukma yang bekerja, namun ia tidak di bagian yang melayani pembelian obat.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Medan, Vernando Agus Hakim menuntut kedua terdakwa dua tahun penjara karena dianggap melanggar Pasal 360 Ayat (1) KUHPidana jo Pasal 360 Ayat (2) KUHPidana.

3 Likes

Tinggalkan Balasan

1 Comment

  1. Kadang agak aneh beli obat di apotek, kita bawa jenis obat dikasih merek lain dan ditawari obat ini itu. Yg nawarin bukan apoteker lagi. Uda itu agak aneh dengan harga jual yg diberikan apotek, apakah boleh apotek menjual obat diatas HET??