Kisah Suyamto, Kepala Desa di Klaten yang Bagikan Padi Gratis pada Warga: Saya yang Tanam Warga yang Panen, Silakan Ambil

Kebiasaan seorang kepala desa di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah Suyamto (63), sungguh menginspirasi.

Di saat banyak masyarakat kesulitan menghadapi pandemi, Kepala Desa Tumpukan, Kecamatan Karangdowo, Klaten ini tak segan-segan membagikan seluruh hasil padi panennya untuk warga,

Hasil panen tersebut berasal dari tanah kas desa yang merupakan jatah bagi kepala desa.

“Saya yang tanam, warga yang panen, silahkan ambil secukupnya,” tutur Suyamto, seperti dilansir dari TribunSolo, Jumat (16/4/2021).

Baca Juga  Nih Peternak Babi Berharta Rp 196 T yang Jadi Orang Terkaya China

Sudah lima kali panen dari sawah desa dia bagikan kepada warganya.
Suyamto ingin meringankan beban warganya yang terdampak pandemi Covid-19.

“Sudah 5 kali panen saya berikan semua ke warga, ya untuk membantu ekonomi warga saya,” ucap dia, Jumat (16/4/2021).

Selama setahun terakhir, Suyamto melihat pandemi telah menggempur perekonomian warganya.

Hatinya tergerak. Suyamto meniatkan memberikan padi gratis sebagai amal ibadah.

Baca Juga  Ubah Aturan, Kini Dubai Bebaskan Restoran Tak Pasang Tirai Selama Ramadhan

“Ya saya ikhlas saja meskipun tak seberapa tapi nyatanya setelah itu panenan lain juga bagus hasilnya,” ujar dia.

Suyamto mengatakan, baru 1.700 meter atau satu patok sawah yang dia garap.

Menurutnya, meski tidak besar, hasilnya lumayan banyak.

“Kalau dijual ke tengkulak gabah umumnya laku Rp 5 juta, tapi lebih baik diberikan ke warga saja,” jelasnya.

Padi yang dia tanam selama ini adalah Inpari 42, Inpari 32 dan Ir 64.

Baca Juga  Matikan Mesin Kompresor, Pria Ini Bunuh Lobster Senilai Rp 145 Juta

Ketika masa panen, warga pun diperbolehkan memanen sendiri ke sawahmya.
Namun Suyamto meminta warga menggunakan cara tradisional saat memanen.

Caranya yaitu dengan menggunakan ani-ani, gunting, pisau, dan dilarang menggunakan arit.

“Dalam memanen padi tersebut saya melarang memakai arit, warga hanya dibolehkan memakai ani-ani, gunting dan pisau,” terang dia.

Dia ingin mengembalikan tradisi zaman dahulu kala.

Artikel asli kompas

2 Likes

Tinggalkan Balasan