MallGede News Tak Terima Dituntut 6 Tahun Bui, HRS Bandingkan dengan Ahok-Djoko Tjandra

Tak Terima Dituntut 6 Tahun Bui, HRS Bandingkan dengan Ahok-Djoko Tjandra

Habib Rizieq Shihab (HRS) membacakan nota pembelaan atau pleidoi dalam perkara dugaan penyebaran hoax terhadap hasil tes swab di RS Ummi, Bogor.

Rizieq menyebut tuntutan jaksa 6 tahun penjara lebih tinggi ketimbang kasus korupsi.

“Bahwa JPU menjadikan kasus pelanggaran prokes sebagai kejahatan yang jauh lebih jahat dan lebih berat daripada kasus korupsi,” kata Rizieq saat membacakan pleidoi dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (10/6/2021).

Rizieq kemudian membandingkan kasusnya dengan kasus Djoko Tjandra, yang hanya dituntut 4 tahun. Rizieq mempertanyakan tidak ada yang dituntut lebih tinggi dari dirinya dalam kasus tersebut.

Baca Juga  Komnas HAM Tak Temukan Indikasi Pelanggaran HAM Berat soal Insiden Km 50

“Bahwa dalam kasus koruptor Djoko Tjandra, ternyata Djoko Tjandra dan jaksa Pinangki masing-masing hanya dituntut 4 tahun penjara, sedang Irjen Napoleon lebih ringan, hanya dituntut 3 tahun penjara, dan Brigjen Prasetyo lebih ringan lagi, hanya dituntut 2,5 tahun penjara, bahkan kasus mantan bos Garuda Ary Askhara hanya dituntut 1 tahun penjara,” ujarnya.

Habib Rizieq turut memaparkan data Indonesia Corruption Watch (ICW) pada 19 April 2020 yang menunjukkan bahwa sepanjang 2019, dari 911 terdakwa korupsi, ada 604 orang dituntut di bawah 4 tahun penjara. Data ICW pada 22 Maret 2021 juga menerangkan sepanjang 2020 dari 1.298 terdakwa korupsi rata-rata tuntutan hanya 4 tahun penjara.

Baca Juga  Mahfud MD Sebut Ada Anak-Anak Muda Dilatih untuk Teror VVIP

“Jadi, dalam pandangan JPU bahwa kasus pelanggaran protokol kesehatan bukan sekadar kejahatan biasa, tapi jauh lebih jahat dan lebih berat daripada kasus korupsi yang telah merampok uang rakyat dan membangkrutkan negara, sehingga kasus pelanggaran protokol kesehatan harus dituntut 6 tahun penjara,” ucap Rizieq.

Kasus Ahok tidak luput dari perhatian Rizieq. Dia menilai jaksa menganggap kasus pelanggaran protokol kesehatan yang menjerat lebih berat ketimbang kasus Ahok dan penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan.

Baca Juga  Front Persaudaraan Islam Ajak Eks FPI Gabung Kembali

“Selain itu, ternyata juga bagi JPU bahwa kasus pelanggaran protokol kesehatan bukan hanya kejahatan biasa, tapi kejahatan luar biasa, sehingga jauh lebih jahat dan lebih berat daripada kasus penistaan agama yang pernah dilakukan Ahok sehingga buat gaduh satu negeri, juga jauh lebih jahat dan lebih berat daripada kasus penyiraman air keras terhadap petugas negara dan penyidik KPK Novel Baswedan sehingga salah satu matanya buta permanen,” kata dia.

0 Likes

Author: Admin